"Jejak Pembelajaran adalah catatan perjalanan saya dalam mencari makna, ilmu, dan pengalaman. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari proses tumbuh."

Pola Pikir Bertumbuh untuk Pengetahuan Nilai dan Karakter

Dalam tahap Memahami di Pengalaman Belajar terdapat 3 macam pengetahuan yaitu: Pengetahuan Esensial, Pengetahuan Aplikatif dan Pengetahuan Nilai dan Karakter.



PPB memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Pengetahuan Nilai dan Karakter yaitu pengetahuan yang berkaitan dengan pemahaman tentang nilai-nilai moral, etika, budaya, dan kemanusiaan yang berperan penting dalam membentuk kepribadian, sikap, dan perilaku seseorang. Dalam buku Becoming a Growth Mindset School, Chris Hildrew (2018) mengatakan bahwa PPB memiliki kaitan yang sangat kuat dengan Pendidikan Karakter bahkan di sekolah PPB akan berada di dalam rumpun Pendidikan Karakter. Murid dengan PPB akan memiliki berbagai “karakter non-kognitif“ yang dalam keseharian tampak dalam bentuk kesabaran, ketangguhan, keuletan dan kegigihan seta sejumlah sifat-sifat positif yang muncul pada saat murid mulai memahami bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mencapai apapun yang mereka cita-citakan sepanjang mereka mau belajar dan berusaha.

Menurut Bapak Pendidikan Karakter Dunia Prof Thomas Lickona dalam bukunya Educating for Character, ada tiga komponen dari karakter yang baik yaitu : Pengetahuan Moral (Moral Knowing), Penghayatan Moral (Moral Feeling) dan Tindakan Moral (Moral Action) seperti yang ditiunjukkan oleh Peta Pikiran di bawah ini.


Jadi hanya mengetahui sesuatu yang baik tidaklah cukup tanpa adanya penghayatan serta melakukan aksinya. Oleh karena itulah seorang murid harus memiliki Pengetahuan Nilai dan Kakter selain Pengetahuan Esensial dan Pengetahuan Aplikatif agar pengetahuan yang dipelajarinya bisa berguna untuk menolong orang lain dan juga untuk membentuk dirinya sendiri sebagai probadi yang memiliki nilai dan karakter yang baik pula.

Sebuah “definisi baru” tentang karakter telah diperkenalkan oleh Lickona dan Davidson dalam bukunya Smart & Good High Schools (2005), hal ini perlu dilakukan untuk menjawab pertanyaan dari banyak guru : Apakah dengan mengajarkan Pendidikan Karakter di sekolah akan mampu meningkatkan prestasi akademik murid kami. Dalam definisi barunya, Lickona dan Davidson menyatakan bahwa : karakter memiliki dua bagian yang saling melengkapi yaitu : Karakter Performa (Performance Character) dan Karakter Moral (Moral Character) seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Karakter Performa (rajin, kerja keras, kreatif, pantang menyerah dll) berguna untuk mendorong seseorang untuk meraih prestasi yang tinggi lewat usaha yang terbaik pula sedangkan Karakter Moral (jujur, bertanggungjawab, adil, integritas, rasa hormat) berguna untuk “memastikan” bahwa setiap prestasi yang diraih akan selalu melalui cara-cara yang baik dan benar. Nilai-nilai yang terdapat dalam kedua karakter ini, bisa dikembangkan lewat PPB sebab akan selalu ada “godaan” untuk meraih prestasi lewat cara yang “tidak baik dan tidak benar”, dengan PPB seseorang mimiliki keyakinan bahwa mereka mampu untuk meraih prestasi lewat proses belajar dan berusaha serta kuat pada saat berhadapan dengan berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan. Oleh karena itulah keseimbangan antara kedua karakter ini harus ada dalam diri seseorang agar akan “selalu ada tempat” untuk moral di dalam setiap prestasi atau pencapaian.

Dalam bukunya Character Matters (2004), Prof Lickona mengatakan bahwa di dalam kelas akademik dan karakter bisa diajarkan kepada murid secara bersamaan dan untuk itu guru harus mampu “menggali” nilai dan karakter yang ada di dalam materi yang mereka ajarkan seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.


Mengintegrasikan akademik dan karakter tidaklah sulit dan butuh waktu yang lama sebab dalam setiap materi pelajaran akan selalu ada unsur karakternya namun terkadang “tersirat” sehingga guru harus mampu untuk menggalinya. Mengajarkan karakter lewat kurikulum adalah cara yang paling efektif sebab sudah tersedia nilai-nilai dalam seluruh mata pelajaran yang bisa dipakai dalam mengajarkan karakter di dalam kelas. Berikut beberapa cara untuk menggali nilai-nilai karakter di dalam setiap pelajaran.

  • Apakah ada hal-hal yang terkait dengan karakter atau aplikasinya dalam pelajaran ?
  • Pertanyaan apa yang harus diberikan untuk mengarahkan pada diskusi tentang karakter?
  • Dapatkan modul tentang karakter disisipkan dalam rencana pembelajaran ?
  • Kejadian apa yang sedang terjadi yang dapat digunakan untuk membahas tentang karakter?

Dalam Pembelajaran Bermakna, proses menggali nilai-nilai dalam materi pelajaran dapat dilakukan dengan cara :

  • Bagaimana kaitan dari materi yang diajarkan dengan kehidupan siswa sehari-harinya ?
  • Apa dampak positif atau manfaat yang diperoleh bila materi pelajaran itu diterapkan dengan baik dan benar ?
  • Sebaliknya, apa dampak negatif atau kerugian kalau sekiranya ilmu itu diterapkan secara tidak benar atau menyimpang dari yang seharusnya ?

Dari ketiga pertanyaan di atas, guru bisa mengajak murid untuk menggali nilai-nilai yang harus dimiliki agar seluruh materi yang dipelajari bisa memberi manfaat bagi orang banyak.



Sumber : Modul Pembelajaran Mendalam - Kemendikdasmen 2025

Share:

Peran Pola Pikir Bertumbuh untuk Kreatifitas

Dalam bukunya In Search of Deeper Learning, Mehta dan Fine (2019) telah mendefinisikan bahwa PM adalah kombinasi dari 3 elemen yang disingkat dengan MIC yaitu : mastery, identity dan creativity. Mastery adalah mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam area yang dipelajari, Identity merupakan proses untuk menjadi lebih bermakna dalam berpikir tentang diri sendiri yang melakukan tugas itu. Berpindah dari konsep tentang diri sendiri dari : Saya seseorang yang sedang belajar menjadi Saya adalah seorang pembelajar, kata pembelajar menjadi identitas yang kuat sebab menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang bisa belajar dengan baik. Creativity bukan sekedar mendengar atau memahami sebuah pengetahuan tapi harus mampu untuk “menciptakan” sesuatu dari pengetahuan itu. Kreativitas membutuhkan ketrampilan berpikir inovatif (innovative thinking) agar bisa membuat sesuatu yang berbeda, kreatif dan baru dari berbagai informasi dan pengetahuan yang didapatkan. Dalam proses membuat sesuatu yang “baru” inilah PBB sangat berperan karena sebuah “kebaruan” akan selalu memiliki 2 sisi yaitu peluang dan juga tantangan. Keyakinan akan

Salah satu dari 8 Dimensi Profil Lulusan dalam PM yang juga menjadi salah satu dari Ketrampilan Abad ke 21 adalah Kreatifitas yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah lewat berbagai ide dan solusi yang kreatif dan inovatif. Kreatifitas adalah salah satu faktor penting dalam sebuah siklus I-K-I (Iterasi – Kreativitas – Inovasi) seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Jadi tampak dengan jelas peran penting dari Kreatifitas sebagai ”jembatan” dari masa sekarang (Iterasi) dengan masa depan (Inovasi). Seorang yang kreatif pasti harus memiliki PPB sebab dalam proses mengembangkan berbagai ide, solusi dan alternatif khususnya yang akan dipakai untuk memecahkan masalah pasti akan selalu melewati berbagai tantang, hambatan dan kesulitan sebab membuat sesuatu yang “berbeda, kreatif dan baru” akan diliputi oleh ketidakjelasan dan ketidakpastian, Hanya dengan PPB lah seseorang akan mampu untuk terus bertahan karena yakin bahwa semuanya itu pasti akan berhasil pada waktunya.
Menurut teori The 4 Zones of Life, terdapat empat zona dalam kehidupan manusia. Setiap zona akan memiliki tantangan dan peluang yang berbeda-beda sehingga butuh strategi dan cara dalam menghadapinya. Keterkaitan antara Siklus I-K-I dengan 4 Zona Kehidupan dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

  1. Zona Nyaman (Comfort Zone): zona di mana seseorang hanya melakukan sesuatu yang sama secara berulang (Iterasi).
  2. Zona Ketakutan (Fear Zone): zona yang harus dilalui bilamana seseorang ingin keluar dari Zona Nyaman dan masuk ke zona Belajar. Di Zona inilah PPB dibutuhkan untuk mengatasi berbagai ketakutan pada saat harus mengalami tantangan, hambatan dan kesulitan. Dengan PPB seseorang bisa “mengeliminasi” rasa takut seseorang terhadap berbagai kendala yang dihadapinya.
  3. Zona Belajar (Learning Zone): zona di mana seseorang menjalani proses belajar lewat proses mencari, mengembangkan dan mencoba sesuatu yang baru (Kreatifitas)
  4. Zona Bertumbuh (Growth Zone): zona di mana seseorang telah “bertumbuh” sebab mampu menguasai atau menciptakan sesuatu yang “baru” dan lebih baik (Inovasi).
Kreativitas sesungguhnya sudah ada dalam diri setip orang tapi ada yang bersifat dan ada pula yang masih pasif. Ketrampilan Berpikir Kreatif adalah mesin dari Kreatifitas sebab lewal ketrampilan inilah berbagai ide, solusi dan alternatif bisa muncul sebagai langkah awal untuk memecahkan masalah. Salah satu Creative Thinking Tool – CTT yang banyak digunakan orang adalah Metode CREATE seperti yang jelaskan oleh John Langrehr dalam bukunya Teaching Our Children To Think (2006). Langrehr membagi Proses Berpikir Inti (Core Thinking Process) menjadi empat bagian yaitu: Organized Thinking, Analytical Thinking, Creative Thinking dan Critical Thinking.
Untuk Creative Thinking, ada metode CREATE yaitu enam cara untuk menciptakan ide atau alternatif baru yaitu: menggabungkan (combine), membalikkan (reverse), menghilangkan (eliminate), mengganti (alternative), memutar (twist) dan menguraikan (elaborate).

Dalam bukunya Simply Brilliant (2017) Bernhard Schroeder mengatakan bahwa Kreativitas bisa berkembang dalam diri setiap orang bila mau “melakukan transisi” dari PPT ke PPB lewat beberapa cara berikut ini.
  • – Akui dan terima “ketidaksempurnaan”
  • – Melihat tantangan sebagai sebuah peluang
  • – Mencoba strategi belajar yang berbeda saat mengalami kegagalan
  • – Mengganti kata “kegagalan” menjadi “pembelajaran”
  • – Berhenti mencari pengakuan yang premature
  • – Menghargai proses daripada hasil akhir
  • – Lebih mementingkan perkembangan daripada kecepatan
  • – Menanamkan kerendahan hati
  • – Berani mengambil resiko
Seorang psikolog dengan spesialisasi pola pikir, Dr Gemma Leigh Roberts mengaatkan dalam bukunya Mindset Matters (2022) bahwa PPB adalah pola pikir untuk kreativitas dan inovasi sebab banyak inovasi besar yang diawali dengan berbagai kegagalan, namun berkat PPB para inovator memahami bahwa inilah harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang luar biasa. PPB juga mendukung apa yang disebut oleh Dr Roberts dengan istilah “resiliensi psikologis” yaitu cadangan resiliensi untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang bisa muncul di tempat kerja dan menjaga diri dari stes di masa yang akan datang. Ini sangat penting sebab tantangan bisa menghampiri kita dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya.


Sumber : Modul Pembelajaran Mendalam - Kemendikdasmen 2025

Share:

Peran Pola Pikir Bertumbuh dalam Pembelajaran Mendalam


Peran PPB dalam Pembelajaran Mendalam sangat besar sebab bisa berperan di banyak bagian yang ada dalam Kerangka Kerja PM yang terdiri dari 4 kategori: Kerangka Pembelajaran, Pengalaman Pembelajaran, Prinsip Pembelajaran dan Dimensi Profil Lulusan.

1. Peran PPB dalam Kerangka Pembelajaran

Dalam Kerangka Pembelajaran yang terdiri dari 4 Elemen : Praktik Pedagogik, Lingkungan Pembelajaran, Kemitraan Pembelajaran dan Pemanfaatan Digital, prinsip-prinsip PPB dapat digunakan dalam:

a. Praktik Pedagogik: yang melibatkan murid secara aktif dengan menggunakan berbagai model dan metode pembelajaran yang berfokus pada pemecahan masalah yang kontekstual, proyek yang bersifat kolaboratif, serta eksplorasi banyak ide-ide pasti akan berhadapan dengan berbagai hambatan, tantangan dan kesulitan. Saat inilah prinsip-prinsip PBB seperti: Productive Failure, The Power of YET serta Intervensi Pola Pikir dari guru ke murid. Selanjutnya Peta Pikiran akan berguna dalam Pembelajaran yang bersifat konstruktivisme di mana murid dapat mengkonstruksi pemahaman mereka melalui tahap demi tahap dalam penyusunan Peta Pikiran yang dimulai dari CI lalu ke BOI dan akhirnya ke C/H.

b. Lingkungan Pembelajaran : dalam pengembangan Budaya Belajar demi menciptakan iklim belajar yang kondusif serta bisa memotivasi murid untuk bereksplorasi dan kolaborasi sangat membutuhkan PPB karena murid membutuhkan keyakinan yang kuat bahwa lewat eksplorasi dan kolaborasi mereka bisa bertumbuh dan berkembang. Dalam menjalani proses belajar ini pasti akan terjadi berbagai kesalahan bahkan kegagalan namun dengan PPB mereka akan terus bertahan serta berani mengambil resiko.

c. Kemitraan Pembelajaran: untuk membentuk hubungan yang kuat antara guru dan murid, guru dan orangtua serta guru dan guru sangat membutuhkan PBB karena dibutuhkan unsur “saling percaya” dari setiap pihak. Keyakinan bahwa setiap pihak bisa saling mendukung dan berkolaborasi demi tumbuh kembang dan kemajuan pendidikan anak didik merupakan prinsip dasar dari PPB.

d. Pemanfaatan Digital: seperti yang dikatakan oleh Leonardi dan Neeley dalam bukunya The Digital Mindset bahwa mesin bukanlah “pengganti atau pesaing” manusia, manusia harus mau berkolaborasi dengan mesin agar bisa memperoleh hasil yang diharapkan. Keyakinan inilah yang disebut dengan Digital Mindset yang memiliki prinsip yang persis sama dengan PPB, bahkan dalam proses Transformasi Digital faktor Pola Pikir menjadi yang pertama harus dibenahi sebelum lanjut ke faktor yang lain.

2. Peran PPB dalam Pengalaman Belajar

Dalam Pengalaman Belajar yang terdiri dari Memahami, Mengaplikasi dan Merefleksi atau disingkat dengan 3M, prinsip dari PPB dapat diterapkan dalam setiap tahapnya.

a. Memahami: proses memahami harus melewati sebuah proses yang kadang tidak mulus sebab murid sering kali harus melewati berbagai kendala dan merasakan kesulitan. Di saat inilah PPB dibutuhkan agar murid bisa paham bahwa kendala dan kesulitan itu pertanda proses belajar sedang berlangsung dan otak sedang berusaha untuk membuat jalur-jalur baru dan sama sekali bukan tanda kelemahan. Keyakinan seperti inilah yang menjadi fondasi utama dalam tahap memehami.

b. Mengaplikasi: dalam tahap mengaplikasi dibutuhkan pendalaman pengetahuan agar bisa mengaplikasikan pengetahuan yang melibatkan penerapan PPB, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara efektif. Dengan PPB maka akan muncul kreatifitas dan penalaran kritis yang sangat berguna dalam pemecahan masalah lewat solusi kreatif dan inovatif.

c. Merefleksi: inilah tahap dimana peran PPB sangat besar sebab pada tahap ini murid akan diajak untuk memahami sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai, serta mengeksplorasi kekuatan, tantangan, dan area yang perlu diperbaiki. PBB akan mendorong murid untuk bertahan saat menghadapi tantangan serta memiliki keyakinan yang tinggi untuk memperbaiki diri agar bisa terus bertumbuh dan berkembang.

3. Peran PPB dalam Prinsip Pembelajaran

Prinsip Pembelajaran dalam PM dikenal sebagai BBM yaitu Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menggembirakan (Joyful). Peran PBB dalam Prinsip Pembelajaran ini dimulai pada prinsip Berkesadaran yang

a. Berkesadaran: inilah prinsip utama yang menjadi fondasi bagi dua prinsip lainnya sebab tanpa adanya kesadaran murid untuk mau belajar maka tidak akan pernah akan muncul prinsip bermakna dan menggembirakan. Dengan PPB murid akan sadar bahwa belajar adalah sebuah proses yang di dalamnya akan selalu ada berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang harus dihadapi. Bahkan seringkali murid melakukan kesalahan bahkan mengalami kegagalan.

Learning Mindset adalah kumpulan keyakinan yang harus dimiliki murid ada siap untuk belajar yaitu :

  • Saya adalah pemilik komunitas belajar ini
  • Saya bisa merubah kemampuan saya lewat usaha
  • Saya bisa meraih sukses
  • Tugas-tugas ini memiliki nilai dan tujuan untuk saya.

Learning Mindset ini sangat selaras dengan prinsip Berkesadaran karena inilah faktor yang terpenting yang menjadi fondasi untuk bisa masuk ke prinsip Bermakna dan Menggembirakan.

b. Bermakna: pembelajaran yang menerapkan prinsip bermakna akan membutuhkan PPB agar bisa menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) yang akan sangat berguna dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan. Dengan PBB kendala itu akan dianggap sebagai sebuah “peluang” untuk memperoleh pengatahuan dan ketrampilan yang berguna.

c. Menggembirakan: pembelajaran yang menggembirakan membutuhkan PPB demi terciptanya suasana belajar yang positif dan menantang serta menyenangkan, dan memotivasi. Keyakinan murid bahwa mereka bisa memahami dan mengaplikasi berbagai pengetahuan yang telah mereka pelajari akan menjadi faktor yang menimbulkan rasa gembira

4. Peran PBB dalam Dimensi Profil Lulusan

Sasaran dari PM terdapat dalam 8 Dimensi Profil Lulusan yang disebut dengan 8D dan PBB akan berperan dalam beberapa dimensi khususnya dalam 4 Dimensi yang dikenal sebagai Ketrampilan Abad ke 21 yang terdiri dari Kreatifitas, Penalaran Kritis, Komunikasi dan Kolaborasi.

a. Kreatifitas: kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang, menghasilkan banyak gagasan, serta menemukan dan mengembangkan alternatif solusi yang efektif. murid yang memiliki kreativitas cenderung berpikir di luar kebiasaan, mengembangkan ide-ide secara mendalam

b. Penalaran Kritis: kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi setiap informasi, ide dan solusi secara cermat, tanggap, dan mampu menghadapi tantangan dengan pemikiran yang mendalam dan terstruktur. PPB akan menjadi pendukung dari seseorang agar bisa tetap berpikir dengan jernih , tajam dan mendalam walalupun dalam situasi yang menantang.

c. Komunikasi: kemampuan penting murid untuk berinteraksi dengan orang lain, berbagi serta mempertahankan pendapat, menyampaikan sudut pandang yang beragam, dan aktif terlibat dalam kegiatan yang membutuhkan interaksi dua arah. Murid dengan PBB lebih mudah berkomunikasi sebab dia miliki keyakinan yang kuat bahwa lawan bicaranya pasti bisa saling mengisi dan memperkuat

d. Kolaborasi: kemampuan kolaborasi mampu berkontribusi secara aktif, menggunakan pemecahan masalah bersama, dan menciptakan suasana yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Dengan PBB, murid bisa berkolaborasi dengan baik sebab saat ini tidak ada lagi Super Man melainkan Super Team sehingga kesuksesan hanya dapat diraih lewat kolaborasi yang berlandaskan prinsip PPB.

Selain dari 4 Dimensi Profil Lulusan di atas, PPB juga dapat berperan dalam Dimensi lainnya yaitu Kemandirian dimana murid dengan PPB akan memiliki keyakinan bahwa mereka mampu untuk mengatasi berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan untuk setiap pilihan dan keputusan yang mereka ambil. Dengan PPB murid juga akan mampu untuk menguasai diri dan bertahan dalam berbagai macam situasi serta siap untuk terus belajar agar bisa terus bertumbuh dan berkembang.

Pola pikir bertumbuh (growth mindset) memainkan peran krusial dalam pembelajaran mendalam dengan mendorong peserta didik untuk melihat kecerdasan dan kemampuan sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan melalui usaha dan kegigihan, bukan sebagai sifat tetapPeran ini terlihat dari peningkatan kepercayaan diri, penerimaan terhadap tantangan dan kesalahan sebagai peluang belajar, serta tumbuhnya motivasi untuk mencari strategi baru demi penguasaan materi secara utuh. 
Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Motivasi: Individu dengan pola pikir bertumbuh percaya bahwa kemampuan mereka bisa berkembang, sehingga mereka lebih berani menerima tantangan dan tidak mudah putus asa saat menghadapi kesulitan, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk belajar lebih dalam.
Mendorong Ketekunan dan Usaha: Keyakinan bahwa kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha mendorong peserta didik untuk lebih gigih dan bekerja keras dalam proses pembelajaran, yang merupakan fondasi dari pembelajaran mendalam.

Menerima Tantangan dan Umpan Balik: Pola pikir bertumbuh membuat individu melihat tantangan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk tumbuh. Mereka juga mampu menerima umpan balik sebagai informasi berharga untuk perbaikan, bukan sebagai kritik pribadi.

Membangun Ketangguhan (Resiliensi): Kemampuan untuk bangkit dari kegagalan dan kesalahan adalah karakteristik utama pola pikir bertumbuh. Hal ini sangat penting dalam pembelajaran mendalam, di mana proses seringkali penuh eksperimen dan kegagalan.

Menciptakan Kreativitas dan Inovasi: Dengan keyakinan bahwa kemampuan bisa berkembang, individu lebih berani mengeksplorasi ide-ide baru dan merasa berdaya untuk menciptakan solusi dari pengetahuan yang mereka miliki, yang merupakan kunci kreativitas dalam pembelajaran.

Mengembangkan Pembelajaran Sepanjang Hayat: Pola pikir bertumbuh membentuk individu yang memiliki semangat belajar yang terus-menerus, siap menghadapi perubahan, dan mampu beradaptasi dengan tantangan masa depan. 

Menunjang Pengembangan Karakter Holistik: Selain aspek akademis, pola pikir bertumbuh juga membantu membentuk karakter yang utuh, termasuk menjadi warga negara yang aktif, komunikatif, dan memiliki kesehatan mental yang seimbang. 




Sumber : Modul Pembelajaran Mendalam - Kemendikdasmen 2025

Share:

Growth Mindset

 A. Konsep Dasar Pola Pikir (Mindset)



Pola Pikir (Mindset) didefinisikan sebagai cara melihat dan cara berpikir seseorang terhadap sebuah peristiwa (how to see and how to think) yang berguna untuk memperluas (broaden) cara melihat dan berpikir, Kumpulan Ketrampilan (Skillset). didefinisikan sebagai pengetahuan dan pengalaman yang berguna untuk memperdalam (deepen) saat mempelajari sesuatu dan Alat-alat (Toolset) didefinisikan sebagai kumpulan Metode dan Alat yang berguna untuk mempertajam (sharpen) dalam menganalisis sebuah peristiwa atau masalah. Dari gambar di atas tampak jelas bahwa Pola Pikir adalah fondasi dari Kumpulan Ketrampilan dan juga Alat-alat sehingga tanpa Pola Pikir yang tepat makan 2 unsur di atasnya tidak akan berguna. Oleh karena itu kita sering mendengar ungkapan: Pola Pikir Lebih Penting dari pada Ketrampilan (Mindset Over Skillset).

Mengapa Manusia Berbeda-beda? Dua jenis Pola Pikir dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pola Pikir Tetap (PPT) adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa kecerdasaan dan ketrampilan bersifat tetap dan tidak bisa diubah lagi secara signifikan.

Pola Pikir Bertumbuh (PPB) adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan bisa dikembangkan secara tidak terbatas lewat proses belajar dan berusaha.


B. Dari Pola Pikir Tetap ke Pola Pikir Bertumbuh

Suara PPT adalah suara-suara yang menimbulkan kekhawatiran dalam diri seseorang pada saat menghadapi tantangan dan hambatan sebaliknya suara PPB adalah suara-suara yang memunculkan optimisme dalam kondiri yang tidak sesuai dengan harapan atau lebih tepatnya tetap bertindak positif dalam situasi negatif. Merubah dari PPT ke PPB  :



C. Intervensi Pola Pikir

interverensi Pola Pikir bertujuan untuk memberi pemahaman kepada murid bahwa perjuangan pada saat menghadapi tantangan, hambatan dan kesulitan dalam belajar hanyalah sebuah proses dalam belajar dan bukan indikasi dari kegagalan atau kelemahan.


D. Pujian Pribadi dan Pujian Proses

Cara guru memberi pujian atau kritik juga menjadi faktor yang sangat menentukan tipe pola pikir yang akan terbentuk pada muridnya. murid yang diberi Pujian Pribadi cendrung akan memiliki PPT sebab mereka akan haus akan pujian-pujian tanpa peduli dengan proses belajar, di lain pihak murid yang diberi Pujian Proses akan memiliki PPB sebab proses belajar dan berusaha adalah lebih penting dari pada sekedar nilai.




Sumber : Modul Pelatihan Pembelajaran Mendalam - Kemendikdasmen 2025

Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Yuri Yogaswara, S.Pd., M.PFis adalah Widyaiswara Ahli Muda pada Kantor Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Kepulauan Riau yang berfokus pada pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Ia menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Fisika di Universitas Pendidikan Indonesia (2008) dan meraih gelar Magister Pengajaran Fisika dari Institut Teknologi Bandung (2018). Berpengalaman sebagai asesor, narasumber, fasilitator, dan motivator, Yuri aktif dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas pendidik di tingkat daerah maupun nasional. Sebelumnya, ia berperan sebagai asesor pada Program Guru Penggerak, salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Saat ini, ia turut terlibat dalam pelaksanaan program prioritas Kemendikdasmen lainnya, yaitu Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial. Dengan komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat, Yuri terus berupaya mendorong inovasi, kolaborasi, dan profesionalisme guru untuk mewujudkan pendidikan yang bermakna dan berdaya saing.

Total Tayangan Halaman