"Jejak Pembelajaran adalah catatan perjalanan saya dalam mencari makna, ilmu, dan pengalaman. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari proses tumbuh."

Bagaimana cara menggunakan Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran

 



Apa itu Taksonomi SOLO?

Dalam bidang pendidikan yang terus berkembang, para pendidik terus mencari pendekatan inovatif untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Salah satu metode yang semakin populer adalah Structure of Observed Learning Outcome (SOLO) .

Taksonomi SOLO, yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis, adalah sistem klasifikasi yang membantu guru mengklasifikasikan hasil pembelajaran dalam tingkat peningkatan kompleksitas pemahaman siswa.

Ini menyediakan kerangka kerja untuk memahami perkembangan perjalanan belajar siswa.

Tingkatan Taksonomi SOLO

1. Prastruktural (pemahaman pra-permukaan)

Pada tingkat ini, siswa memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki pemahaman sama sekali tentang suatu topik . Mereka mungkin bingung dan kesulitan memahami dasar-dasarnya.

2. Unistruktural (pemahaman permukaan)

Siswa mulai memahami satu aspek topik . Mereka dapat mengidentifikasi beberapa fakta atau konsep, tetapi pemahaman mereka masih terbatas.

3. Multistruktural (pemahaman permukaan)

Siswa mulai menghubungkan berbagai informasi . Mereka dapat melihat bagaimana bagian-bagian yang berbeda saling berhubungan dan memiliki pemahaman yang lebih luas.

4. Relasional (pemahaman mendalam)

Siswa dapat menganalisis dan menjelaskan hubungan antar gagasan . Mereka dapat berpikir kritis dan memahami gambaran yang lebih besar.

5. Abstrak Lanjutan (pemahaman konseptual)

Ini adalah level tertinggi. Siswa dapat berpikir secara mendalam dan mandiri tentang suatu topik. Mereka dapat menerapkan apa yang telah mereka pelajari ke dalam situasi baru dan menghasilkan solusi kreatif .


Seperti Apa Tingkatan Taksonomi SOLO di Kelas?

Mari kita uraikan ini ke dalam istilah yang lebih praktis untuk lebih memahami seperti apa tingkat pemahaman ini di dalam kelas. 

Siswa pada tingkat pra-struktural mungkin berkata:
"Saya tidak mengerti."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Saya belum pernah mendengar hal ini sebelumnya."

Siswa pada tingkat unistruktural mungkin berkata:

"Saya punya satu ide."
"Saya dapat mendefinisikan suatu istilah."
"Saya bisa melakukan prosedur sederhana."

Siswa pada tingkat multistruktural mungkin berkata:
"Saya punya banyak ide tentang topik ini!"
"Saya dapat menjelaskan beberapa ide saya."
"Saya tidak mengerti bagaimana ide-ide ini saling berhubungan."

Siswa pada tingkat relasional mungkin berkata:
"Saya tahu bagaimana ide-ide ini saling berhubungan."
"Saya dapat menerapkan apa yang telah saya pelajari."
"Saya dapat menjelaskan MENGAPA ini terjadi."

Siswa pada tingkat abstrak yang diperluas mungkin berkata:
"Saya dapat menggunakan apa yang saya pelajari dan menerapkannya pada hal lain."
"Saya dapat membuat prediksi berdasarkan apa yang saya pelajari."
"Saya dapat mengevaluasi sesuatu berdasarkan apa yang saya pelajari."

 

Cara Mengklasifikasikan Hasil Pembelajaran Menggunakan Taksonomi SOLO

1. Identifikasi Hasil Pembelajaran

Mulailah dengan mendefinisikan secara jelas capaian pembelajaran spesifik yang ingin Anda capai oleh siswa. Capaian ini harus mencerminkan apa yang seharusnya diketahui, dipahami, atau dapat dilakukan siswa di akhir pengalaman belajar.

Misalnya, jika Anda mengajarkan suatu unit tentang kelistrikan, hasil pembelajarannya mungkin meliputi:

  • Siswa akan mampu membuat rangkaian seri dan paralel sederhana dan menjelaskan perbedaannya.
  • Siswa akan dapat menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecerahan bohlam dalam suatu rangkaian, seperti jumlah baterai.

2. Tentukan Tingkat Pemahaman

Nilai kedalaman pemahaman yang dibutuhkan untuk setiap capaian pembelajaran . Pertimbangkan kompleksitas berpikir dan sejauh mana siswa harus menghubungkan dan menerapkan pengetahuan.

Saat menentukan kedalaman pemahaman untuk menetapkan hasil pembelajaran, lihat daftar kata kerja berikut yang berkaitan dengan setiap tingkat. 

CATATAN : Tingkat prastruktural menunjukkan kurangnya pemahaman tentang apa pun yang berkaitan dengan suatu topik. Oleh karena itu, capaian pembelajaran biasanya tidak dikaitkan dengan tingkat pemahaman ini menurut SOLO.

Namun, sebagai guru, Anda dapat memulai dengan "batu loncatan pertama" dan menetapkan hasil yang sederhana dan berjenjang rendah seperti "mengidentifikasi, menghafal, dan mengingat kembali." 

Unistruktural

Mengenali
Mendefinisikan
Lakukan prosedur sederhana

Multistruktural

Mendefinisikan
Daftar
Menggabungkan
Menggambarkan
Gunakan algoritma

Relasional

Menggolongkan
Menganalisa
Mengaitkan
Garis besar penyebabnya
Bandingkan & bedakan

Abstrak yang Diperluas

Mencerminkan
Meramalkan
Mengadakan hipotesa
Membuat
Desain & bangun
Mencerminka
n


3. Cocokkan dengan Tingkat Taksonomi SOLO

Tetapkan setiap capaian pembelajaran pada tingkat taksonomi SOLO yang sesuai. Berikut contoh tujuan pembelajaran dari unit sains kelas 8 dengan topik "Listrik" yang dikategorikan menggunakan taksonomi SOLO:

Unistruktural — Siswa akan dapat mengidentifikasi komponen dasar rangkaian listrik, seperti baterai, kabel, dan bohlam.
Multistruktural — Siswa akan mampu membuat rangkaian seri dan paralel sederhana dan menjelaskan perbedaannya.
Relasional — Siswa akan dapat menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecerahan bohlam dalam suatu rangkaian, seperti jumlah baterai atau panjang kabel.
Abstrak yang diperluasSiswa akan dapat mengevaluasi efisiensi rangkaian kompleks dengan beberapa komponen dan sakelar, dan merenungkan cara kerjanya berdasarkan pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip kelistrikan.

 

Bagaimana Taksonomi Solo Dapat Digunakan untuk Mendukung Pembelajaran Siswa?

Setelah mengklasifikasikan capaian pembelajaran, Anda dapat berfokus pada bagian terpenting: meningkatkan pembelajaran siswa . Setelah menilai pemikiran siswa untuk menentukan tingkat pemahaman dasar mereka, Anda dapat menggunakan Taksonomi SOLO dalam berbagai cara: 

Bagilah siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk membedakan tugas belajar berdasarkan tingkatnya. Setelah siswa mencapai satu tujuan pembelajaran, mereka melanjutkan mempelajari pelajaran yang terkait dengan tingkat pemahaman berikutnya.
Dengan menggunakan pendekatan "pusat" , siswa dapat memilih aktivitas mana yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran mereka saat ini. Dengan menyelaraskan tujuan pelajaran dengan tingkat SOLO tertentu, pendidik dapat merancang pengalaman belajar yang mendukung perkembangan siswa melalui taksonomi , sehingga mendorong pemahaman konsep yang lebih dalam.

Gunakan taksonomi untuk membuat rubrik dan kriteria penilaian yang mencerminkan tingkat pemahaman yang diinginkan. Gunakan taksonomi untuk membuat bahasa umum untuk membahas hasil pembelajaran dan perkembangan dengan siswa Anda.

Berdasarkan tingkat yang ditargetkan, terapkan pendekatan pembelajaran khusus (misalnya, pengajaran eksplisit, kerja kelompok, pemecahan masalah, diskusi reflektif, dan penyelidikan) yang membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran khusus tersebut.


Kesimpulan

Mengklasifikasikan hasil pembelajaran dengan taksonomi SOLO akan memandu Anda dalam merencanakan pembelajaran, merancang penilaian, dan memilih metode pengajaran yang efektif . Hal ini memastikan perkembangan, dukungan, dan pemahaman konsep siswa yang lebih mendalam dalam pengalaman belajar yang terstruktur.

 

 

Sumber : https://learn.rumie.org/jR/bytes/how-do-i-use-solo-taxonomy-to-help-my-students-succeed/ 

 

Share:

Tantangan Implementasi Pembelajaran Mendalam

Mitos dalam dunia pendidikan sering kali menyebar layaknya virus. Begitu masuk ke ruang guru, ia cepat menular dan sulit dikendalikan. Konsep deep learning pun tidak luput dari hal ini. Banyak guru yang sejatinya memiliki niat tulus untuk menghadirkan pembelajaran bermakna, justru bisa tersesat karena terpengaruh oleh mitos-mitos yang terdengar keren tetapi sebenarnya menyesatkan. Alih-alih fokus pada esensi pembelajaran mendalam, energi sering terkuras untuk mengikuti tren yang tidak selalu tepat sasaran.

Ilustrasi pada gambar menunjukkan bagaimana satu informasi keliru dapat bercabang dengan cepat, menyebar ke berbagai arah, dan memengaruhi banyak pihak. Inilah tantangan besar dalam implementasi pembelajaran mendalam: memilah antara mitos dan praktik nyata yang berbasis bukti. Guru perlu membekali diri dengan literasi pendidikan yang kuat, kemampuan reflektif, serta keberanian untuk kritis. Dengan begitu, pembelajaran mendalam dapat benar-benar terlaksana sesuai tujuan awalnya—membantu siswa berpikir kritis, memahami konsep secara utuh, dan mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan nyata.

Seperti yang diingatkan Michael Fullan, kegagalan inovasi pendidikan bukan semata karena ide atau konsepnya buruk, melainkan karena sering kali dijalankan dengan landasan asumsi yang keliru. Jika mitos atau pemahaman yang salah dijadikan dasar implementasi, maka sekeras apa pun usaha yang dilakukan tidak akan mengantarkan pada hasil yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pondasi berpikir jauh lebih menentukan daripada sekadar kerja keras tanpa arah.

Dalam konteks pembelajaran mendalam, tantangan terbesar bukan hanya mengenalkan konsepnya, tetapi memastikan bahwa guru memahami esensinya dengan tepat. Tanpa pemahaman yang benar, strategi pembelajaran mendalam berisiko disalahartikan sekadar sebagai metode baru yang mengikuti tren. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran kritis, memperkuat literasi pendidikan, dan berpegang pada riset serta praktik yang terbukti efektif. Dengan dasar yang kokoh, implementasi pembelajaran mendalam dapat benar-benar membawa perubahan positif bagi siswa dan dunia pendidikan.

John Hattie melalui kajian meta-analisisnya memberikan bukti penting: tidak semua strategi yang populer dalam pendidikan benar-benar efektif. Bahkan, ada strategi yang memiliki effect size rendah atau justru negatif, tetapi tetap digunakan karena dianggap “katanya bagus”. Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan efektivitas, dan tanpa evaluasi kritis, guru bisa terjebak pada praktik yang tidak memberi dampak signifikan bagi pembelajaran siswa.

Oleh karena itu, implementasi pembelajaran mendalam menuntut keberanian untuk memilah antara praktik yang benar-benar terbukti efektif dan sekadar mitos atau tren. Guru perlu berpijak pada data, riset, dan pengalaman reflektif, bukan hanya pada pendapat umum atau jargon pendidikan yang terdengar menarik. Dengan cara inilah pembelajaran mendalam bisa berkembang secara sehat—bukan sekadar ikut arus, tetapi benar-benar mengubah cara siswa belajar, berpikir, dan bertumbuh.

Seperti yang ditekankan oleh Bransford, pembelajaran mendalam sangat bergantung pada mental model yang dimiliki guru. Model mental ini menjadi peta berpikir yang menentukan bagaimana guru memahami tujuan, menyusun strategi, hingga merancang aktivitas pembelajaran. Jika peta ini salah, maka arah yang ditempuh juga akan melenceng, meskipun niat dan usaha yang dilakukan sudah maksimal. Dengan kata lain, kualitas pembelajaran mendalam tidak hanya ditentukan oleh metode atau media, tetapi pertama-tama oleh kerangka berpikir yang benar di benak guru.

Karena itu, membangun mental model yang tepat adalah investasi paling mendasar dalam implementasi pembelajaran mendalam. Guru perlu terus belajar, berlatih refleksi, dan membuka diri terhadap temuan riset maupun praktik baik yang terbukti efektif. Dengan mental model yang benar, setiap aktivitas yang dirancang akan selaras dengan tujuan pembelajaran mendalam: membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual, berpikir kritis, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam berbagai konteks kehidupan nyata.

Untuk benar-benar memahami pembelajaran mendalam, guru perlu berani mencoret mitos-mitos yang menyesatkan. Misalnya, mitos bahwa deep learning identik dengan proyek besar dan rumit. Faktanya, yang terpenting bukanlah ukuran proyek, melainkan kedalaman berpikir yang dilatih. Diskusi singkat selama 10 menit pun bisa menghasilkan pembelajaran mendalam jika diarahkan pada target yang jelas dan bermakna bagi siswa.

Begitu pula dengan anggapan bahwa siswa yang senang otomatis mengalami deep learning. Kesenangan memang penting, tetapi tanpa transfer pengetahuan, hal itu hanya berhenti pada hiburan. Target sesungguhnya adalah bagaimana siswa mampu menghubungkan konsep yang dipelajari dengan konteks baru. Selain itu, deep learning tidak terbatas pada mata pelajaran eksakta atau berpikir tingkat tinggi saja. Semua bidang, mulai dari seni hingga olahraga, memiliki peluang untuk menghadirkan kedalaman belajar, dengan menyesuaikan konteks dan tujuan yang dituju.

Biggs & Tang melalui konsep constructive alignment menegaskan bahwa seluruh elemen pembelajaran harus terhubung dengan outcome yang diharapkan. Artinya, mulai dari perumusan tujuan, pemilihan strategi, hingga bentuk asesmen, semuanya perlu dirancang selaras agar siswa benar-benar mencapai capaian belajar yang bermakna. Jika salah satu elemen tidak nyambung, proses pembelajaran bisa kehilangan arah dan hasil akhirnya pun tidak sesuai harapan.

Yang lebih krusial, definisi outcome itu sendiri harus tepat. Jika guru keliru mendefinisikan hasil belajar yang ingin dicapai, maka alignment otomatis gagal, meskipun strategi dan aktivitasnya terlihat menarik. Oleh karena itu, sebelum berbicara tentang metode atau media, guru perlu memastikan bahwa tujuan pembelajaran sudah jelas, relevan, dan realistis. Dengan fondasi inilah, pembelajaran mendalam dapat dirancang secara konsisten sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang utuh dan bermakna.

Kerangka taksonomi dapat membantu guru memahami posisi deep learning dalam proses belajar. Dalam revisi Bloom, pembelajaran mendalam minimal berada pada level Analyze atau Create, di mana siswa tidak hanya mengingat atau memahami, tetapi sudah mampu membongkar struktur pengetahuan dan menghasilkan sesuatu yang baru. Sementara itu, SOLO Taxonomy menekankan bahwa capaian pembelajaran mendalam harus sampai pada level Relational atau bahkan Extended Abstract, di mana siswa mampu menghubungkan berbagai konsep dan menggeneralisasikannya ke situasi baru.

Dengan memahami kedua kerangka ini, guru bisa lebih presisi dalam merancang tujuan, aktivitas, dan asesmen pembelajaran. Deep learning bukan sekadar jargon, melainkan proses terstruktur yang menuntut siswa berpikir pada level tinggi, tanpa memandang mata pelajaran apa pun. Apakah itu seni, olahraga, atau sains, esensi pembelajaran mendalam adalah melatih siswa untuk menganalisis, mencipta, serta mengaitkan pengetahuan dengan konteks yang lebih luas dan bermakna.

Singkatnya, awal yang keliru akan membawa pembelajaran mendalam menjauh dari tujuannya. Ketika guru terjebak pada mitos populer seperti “deep learning harus berupa proyek besar”, “murid senang berarti pembelajaran mendalam tercapai”, atau “deep learning hanya untuk mata pelajaran tertentu”, maka arah perencanaan dan aktivitas akan kehilangan intinya. Padahal, inti dari pembelajaran mendalam adalah bagaimana pengetahuan dapat ditransfer dan keterampilan berpikir tingkat tinggi benar-benar terasah dalam diri siswa.

Peringatan dari para ahli seperti Fullan, Hattie, dan Bransford menegaskan bahwa mitos hanya akan mengaburkan praktik pendidikan yang efektif. Fullan menekankan bahwa inovasi akan gagal jika dimulai dari asumsi keliru, Hattie menunjukkan bahwa banyak strategi populer ternyata berdampak kecil, sementara Bransford menekankan pentingnya mental model yang tepat. Oleh karena itu, menghapus mitos adalah langkah mendasar agar guru tidak sekadar membuat aktivitas menarik, tetapi benar-benar menghadirkan pengalaman belajar yang berdampak mendalam bagi siswa. 



Referensi :

  1. Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep Learning: Engage the World Change the World. Thousand 0aks, CA: Corwin Press.
  2. Hattie, J. (2009, revised 2023). Visible Learning: A Synthesis of Over 2,100 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.
  3. Bransford, J. D., Brown, A. L, & Cocking, R. R. (2000). How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School. Washington, DC: National Academy Press.
  4. Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University (4thed.). Maidenhead: Open University Press.
  5. Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's Taxonomy of Educational Objectives. New York: Longman.

Bacaan lebih lanjut:

  1. Brown, P. C, Roediger, H. L., & McDaniel, M. A. (2014). Make It Stick: The Science of Successful Learning. Harvard University Press.
  2. Kirschner, P. A., Sweller, J., & Clark, R. E. (2006). Why Minimal Guidance During Instruction Does Not Work. Educational Psychologist, 41(2), 75-86.
  3. Perkins, D. N. (1992). Smart Schools: Better Thinking and Learning for Every Child. Free Press.

Share:

Pondasi Kuat Pembelajaran Mendalam

Membangun rumah tanpa fondasi tentu akan berujung roboh. Begitu pula dalam proses belajar, terutama ketika membicarakan deep learning. Sebuah proyek pembelajaran yang tampak menarik dan keren tidak akan berdampak mendalam apabila tidak ditopang oleh pemahaman konsep yang kuat. Fondasi pengetahuan menjadi kunci agar setiap langkah yang diambil tidak sekadar bersifat sementara, melainkan kokoh dan berkelanjutan.

Sering kali guru maupun pembelajar tergoda untuk langsung melompat ke tahap proyek tanpa membangun pemahaman dasar terlebih dahulu. Padahal, proses memahami konsep adalah pondasi penting yang memastikan proyek berjalan dengan arah yang jelas dan bermakna. Dengan fondasi yang tepat, setiap proyek bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk pemahaman mendalam yang menjadi jejak pembelajaran sejati.

Ketika proses pembelajaran tidak memiliki fondasi yang jelas, dampaknya bisa dirasakan oleh semua pihak. Murid menjadi bingung karena tidak memahami arah belajar, guru merasa frustrasi karena usaha yang dilakukan tidak menghasilkan capaian sesuai harapan, dan kepala sekolah hanya disibukkan dengan tumpukan laporan tanpa melihat makna nyata dari pembelajaran itu sendiri. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya desain pembelajaran yang berbasis pada konsep dan tujuan yang kuat.

Pembelajaran yang bermakna adalah ketika murid benar-benar memahami, guru merasa terarah dalam mengajar, dan kepala sekolah mampu melihat proses sebagai perjalanan, bukan sekadar laporan. Dengan pemahaman ini, setiap langkah pembelajaran dapat meninggalkan jejak yang membangun, bukan sekadar menambah beban.

Michael Fullan mengingatkan bahwa pembelajaran mendalam hanya akan bertahan jika memiliki tujuan utama (core purpose) yang jelas. Tujuannya bukan sekadar menyampaikan konten, melainkan membentuk kompetensi global sekaligus karakter peserta didik. Dengan arah yang jelas, setiap aktivitas belajar dapat berkontribusi pada pengembangan murid secara utuh, bukan hanya sebatas pemahaman materi.

Sebaliknya, ketika guru tidak memahami tujuan inti pembelajaran, seluruh aktivitas yang dilakukan di kelas berisiko menjadi sekadar formalitas atau “hiasan kelas” tanpa makna mendalam. Di sinilah pentingnya refleksi dan kesadaran akan arah pembelajaran yang ingin dituju, agar setiap langkah benar-benar meninggalkan jejak yang menguatkan kompetensi, membangun karakter, dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

John Hattie, melalui data meta-analisisnya, menunjukkan bahwa pengaruh guru terhadap hasil belajar siswa memiliki effect size sebesar 0,49. Angka ini menegaskan bahwa guru adalah faktor kunci dalam menentukan kualitas pembelajaran. Namun, pengaruh tersebut hanya benar-benar muncul ketika guru memahami dengan jelas mengapa ia mengajar dengan cara tertentu, bukan sekadar mengikuti rutinitas atau metode yang sedang tren.

Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya terletak pada strategi yang digunakan, tetapi juga pada kesadaran guru dalam merancang dan menjalankannya. Guru yang memahami tujuan dan alasan di balik tindakannya mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi murid. Dengan pemahaman ini, guru tidak sekadar menjadi penyampai materi, melainkan fasilitator perubahan yang memberikan dampak nyata dalam perjalanan belajar siswa.

Bransford dalam bukunya How People Learn menekankan bahwa pondasi deep learning adalah prior knowledge atau pengetahuan awal murid. Artinya, sebelum melangkah lebih jauh, guru perlu memahami apa yang sudah murid ketahui sebagai titik berangkat pembelajaran. Dengan begitu, proses belajar tidak hanya berfokus pada penambahan informasi baru, tetapi juga membangun keterkaitan yang bermakna dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Sebaliknya, jika guru langsung “asal loncat” ke materi baru tanpa memetakan pemahaman awal murid, maka siswa seperti melakukan “terjun bebas tanpa parasut.” Mereka kesulitan menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, sehingga pembelajaran terasa membingungkan dan kurang bermakna. Oleh karena itu, mengaitkan konsep baru dengan pengetahuan yang sudah ada bukan sekadar strategi teknis, melainkan langkah penting untuk memastikan pembelajaran benar-benar mendalam.

Biggs & Tang melalui konsep constructive alignment menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna hanya bisa tercapai jika guru memahami urutan logis dalam proses belajar. Urutan itu dimulai dari pondasi, dilanjutkan dengan konsep inti, lalu menuju aplikasi. Setiap tahap memiliki peran penting, saling terhubung, dan tidak bisa dilewati begitu saja. Jika salah satunya diabaikan, alur pembelajaran akan rapuh dan tujuan akhirnya sulit tercapai.

Dengan memahami konstruksi ini, guru dapat merancang pembelajaran yang tidak hanya runtut, tetapi juga relevan dan bermakna bagi murid. Ketika pondasi kokoh, konsep inti jelas, dan aplikasi nyata dihadirkan, pembelajaran berubah menjadi pengalaman utuh yang benar-benar meninggalkan jejak. Inilah esensi dari constructive alignment: memastikan setiap langkah pembelajaran saling menguatkan, bukan sekadar aktivitas yang berdiri sendiri.

Pondasi deep learning tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun dari tiga lapisan utama. Pertama, mindset guru yang menyadari bahwa pembelajaran mendalam adalah proses jangka panjang, bukan sekadar proyek instan atau kegiatan musiman. Tanpa pola pikir ini, pembelajaran akan mudah terjebak pada aktivitas sementara yang tidak meninggalkan bekas berarti bagi murid.

Kedua, struktur pengetahuan yang dimulai dari pemetaan pengetahuan awal murid, lalu dirancang alurnya secara logis hingga mencapai target kompetensi. Ketiga, konektivitas tujuan, aktivitas, dan penilaian, yang memastikan semua elemen pembelajaran terhubung dan mengarah pada outcome yang sama. Dengan tiga lapisan ini, guru dapat memastikan bahwa setiap langkah pembelajaran saling menguatkan dan benar-benar menghasilkan jejak yang mendalam.

Mari cek sudah sejauh mana kita :

  • Saya tahu outcome pembelajaran saya dalam1 kalimat jelas ?
  • Saya bisa menjelaskan kenapa outcome itu penting buat murid ?
  • Saya mengecek prioritas pengetahuan sebelum topik baru ?
  • Saya menghubungkan semua aktivitas ke tujuan akhir ?
Pekerjaan yang harus dilakukan :

  • Tanya 3 pertanyaan awal buat mengecek prioritas pengetahuan murid
  • Tulis ulang tujuan pembelajaran dalam bahasa siswa (bukan bahasa dokumen)
  • Pastikan minimal 1 aktivitas dan 1 bentuk penilaian hari itu langsung nyambung dengan tujuan tadi
  • Catat reaksi murid ketika mereka mengerti tujuan pelajaran
Mari refleksikan 

  1. Apa tujuan pembelajaran yang benar-benar bikin murid "kepikiran" setelah kelas selesai ?
  2. Pernah tidak saya mengajar sesuatu tanpa mengecek terlebih dahulu apa yang murid sudah tahu ?
  3. Jika saya diminta menjelaskan tujuan Deep Learning ke orang tua murid dalam 1 menit apa yang saya akan katakan ?


Referensi :

  1. Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding by Design. ASCD.
  2. Darling-Hammond, L., Flook, L., Cook-Harvey, C., Barron, B., & 0sher, D.(2020). Implications for educational practice of the science of learning and development. Applied Developmental Science, 24(2), 97-140.
  3. Perkins, D. (2008). Making Learning Whole: How Seven Principles of Teaching Can Transform Education. Jossey-Bas.


Share:

Pembelajaran Mendalam : Jangan Ikut Tren

Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang diterapkan untuk menguatkan impelementasi kurikulum merdeka. Berbagai tanggapan datang dari guru sebagai ujung tombak. Bagi sebagian guru ada yang menanggapi semangat sampai heboh menganggap ini sesuatu hal yang baru. Pertama mungkin semangat menerimanya tetapi bisa jadi setelah belajar atau mendalami semangat menurun karena banyak yang harus ia kerjakan. Padahal konsep pembelajaran mendalam bukan untuk dicoba-coba seperti halnya membuat kue. Karena, pembelajarannya hakikatnya membentuk karakter manusia, iya kalau dicoba-coba bisa jadi apa tujuan luhur pendidikan membentuk karakter 8 dimensi lulusan tidak tercapai. Ini fakta yang tidak bisa dihindari, praktik di lapangan sering terjadi. 

UNESCO (2023) memberikan peringatan keras bahwa mayoritas guru di dunia, termasuk di Indonesia, masih terjebak dalam praktik pembelajaran berbasis hafalan. Model seperti ini membuat murid hanya terlatih menjawab pertanyaan, tetapi kurang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Akibatnya, meskipun siswa terlihat pintar secara akademik, mereka sering kesulitan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan kontekstual yang sangat dibutuhkan di abad 21. 

Menurut Michael Fullan, pembelajaran mendalam bukan sekadar soal menyampaikan materi, melainkan tentang membentuk manusia yang utuh melalui penguatan 6C: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan pemikiran kritis. Tanpa keenam dimensi ini, pelajaran hanya berhenti sebagai catatan di buku, tidak benar-benar menjadi bagian dari cara hidup siswa. Pendekatan 6C inilah yang mendorong pendidikan lebih bermakna, relevan, dan berdampak bagi kehidupan nyata murid.

John Hattie melalui penelitiannya di Visible Learning memperkenalkan konsep effect size untuk mengukur sejauh mana strategi mengajar benar-benar memberikan dampak pada hasil belajar siswa. Ia menekankan bahwa metode pembelajaran yang tidak memberikan pengaruh signifikan justru hanya akan menguras tenaga guru tanpa memberikan manfaat nyata bagi murid. Dengan kata lain, mengajar bukan sekadar aktivitas, melainkan harus terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas belajar.

Ukuran efektivitas itu dapat dilihat dari skor effect size. Hattie menetapkan bahwa strategi pembelajaran dianggap efektif bila memiliki skor di atas 0,4. Jika berada di bawah angka tersebut, strategi tersebut sebaiknya tidak lagi digunakan karena cenderung membuang waktu dan energi. Pendekatan ini mendorong guru untuk lebih selektif, fokus pada metode yang berdampak nyata, serta berorientasi pada hasil belajar yang lebih bermakna.

Biggs dan Tang menekankan pentingnya constructive alignment, yaitu keselarasan antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan penilaian. Ketiganya harus terhubung secara konsisten, bagaikan jalur kereta yang mengantarkan siswa menuju arah yang jelas. Tanpa keselarasan ini, pembelajaran akan kehilangan arah dan sulit mencapai hasil yang diharapkan.

Jika prinsip tersebut diabaikan, konsekuensinya cukup serius. Siswa bisa merasa bingung, guru menjadi frustrasi, dan sekolah hanya terjebak pada jargon “deep learning” tanpa benar-benar mewujudkannya. Karena itu, constructive alignment menjadi fondasi penting agar pembelajaran tidak sekadar slogan, tetapi nyata membentuk pengalaman belajar yang bermakna.

Bransford dan rekan-rekan dalam How People Learn menegaskan bahwa tujuan akhir dari proses pembelajaran adalah transfer. Artinya, apa yang dipelajari siswa di kelas harus bisa dibawa dan diterapkan dalam konteks atau situasi baru. Inilah yang membedakan pembelajaran bermakna dengan sekadar menghafal materi, karena transfer menunjukkan bahwa pengetahuan benar-benar hidup dalam diri siswa.

Namun, jika siswa tidak mampu menggunakan apa yang telah mereka pelajari di luar ruang kelas, maka seluruh usaha mengajar hanya berhenti sebagai rutinitas semu. Alih-alih menghasilkan keterampilan yang relevan, pembelajaran berubah menjadi sekadar “drama kelas” yang tampak sibuk tetapi miskin dampak. Oleh karena itu, setiap upaya pendidikan seharusnya berorientasi pada bagaimana ilmu dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Deep Learning harud dipahami bahwa siswa harus dapat menghubungkan ide, menguji pemahaman lewat tantangan nyata dan memindahkan konsep ke konteks baru. Tentu untuk menuju kesana perlu cara. Guru dapat melakukan itu dengan cara outcome harus jelas,aktivitas harus menantang tetapi realitis dan penilaian dapat mengukur bagaimana murid dapat mentransfer konsep dalam situasi yang baru. Setidaknya target minimal dilevel analyze untuk Taksonomi Bloom dan Relational atau Extended Abstract untuk taksonomi Solo.

Mari kita periksa apakah saya :

  • Saya paham bahwa Deep Learning bukan sekedar tren ?
  • Saya tahu empat tokoh dunia hari ini : Fullan, Hattie, Biggs, dan Bransford yang pemikirannya dapat membantu pemahaman terkait Deep Learning ?  
  • Saya bisa menjelaskan perbedaan antara hafalan dan transfer pengetahuan ?
  • Saya punya minimal satu contoh aktivitas yang memaksa siswa menghubungkan ide ?
Mari kita list apa yang harus kita kerjakan :

  • Periksa 1 RPP apakah outcome atau tujuan pembelajaran tersebut bisa diuji di dunia nyata tidak ?
  • Ganti satu aktivitas hafalan dengan aktivitas koneksi ide
  • Sisipkan satu pertanyaan terbuka di akhir pembelajaran : "kalau konsep ini dipakai di konteks siswa, apa yang berubah ?
  • catat kedalaman jawaban siswa (bukan sekedar benar dan salah)
Mari kita refleksikan bersama :
  • Kalau murid saya hanya bisa menghafal tapi tidak bisa memindahkan konsep ke situasi baru, siapa yang salah - murid, saya atau sistem ?
  • Dari 6 kompetensi mana yang paling jarang muncul di kelas saya dan kenapa ?
  • Apa resiko terbesar kalau saya memulai deep learning hanya karena ikut-ikutan ?

Refrensi :
  1. UNESCO. (2023). Global Edueation Monitoring Report. Paris: UNESCO Publishing.
  2. Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2018). Deep learning: Engage the World Change the World. Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
  3. Hattie, J. (2009, revised 2023). Visible Learning: A Synthesis of Over 2,100 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.
  4. Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University (4th ed.). Maidenhead: Open University Press.
  5. Bransford, J. D., Brown, A. L., & Cocking, R. R. (2000). How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School. Washington, DC: National Academy Press.
  6. Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A Taxonomy for learning, Teaching, and Assessing: A Revision of Bloom's TaxonOmy of Educational Objeetives. New york: Longmam.
  7. Biggs, J., & Collis, K. (1982). Evaluating the Quality of Learning: The SOLO TaxonOWy. New york: Academic Press.
Share:

Mengenai Saya

Foto saya
Yuri Yogaswara, S.Pd., M.PFis adalah Widyaiswara Ahli Muda pada Kantor Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Kepulauan Riau yang berfokus pada pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Ia menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Fisika di Universitas Pendidikan Indonesia (2008) dan meraih gelar Magister Pengajaran Fisika dari Institut Teknologi Bandung (2018). Berpengalaman sebagai asesor, narasumber, fasilitator, dan motivator, Yuri aktif dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas pendidik di tingkat daerah maupun nasional. Sebelumnya, ia berperan sebagai asesor pada Program Guru Penggerak, salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Saat ini, ia turut terlibat dalam pelaksanaan program prioritas Kemendikdasmen lainnya, yaitu Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial. Dengan komitmen terhadap pembelajaran sepanjang hayat, Yuri terus berupaya mendorong inovasi, kolaborasi, dan profesionalisme guru untuk mewujudkan pendidikan yang bermakna dan berdaya saing.

Total Tayangan Halaman